Sabtu, 25 April 2009

Aktivitas Meningkat, Status Gunung Slamet Siaga

. Sabtu, 25 April 2009

Semarang 25 april 2009

tulisan iniy diambil dari berbagai sumber

(dari liputan6 sctv)
Status Gunung Slamet di Jawa Tengah dinaikkan dari waspada menjadi siaga, Jumat (24/4). Itu karena aktivitas gunung berapi tersebut terus meningkat. Kini seluruh jalur pendakian di Gunung Slamet ditutup dan sejumlah daerah bersiaga.



Tingginya aktivitas vulkanik Gunung Slamet ditandai meningkatnya gempa permukaan, dari kondisi normal 163 kali menjadi 233 kali per hari. Selain itu juga terjadi letusan vulkanik yang ditandai dengan semburan gumpalan awan tebal dari kawah gunung. Akibatnya sejumlah daerah di lereng gunung tertinggi di Jateng ini diselimuti hujan abu tipis.

Namun kegiatan warga di sekitar gunung tetap berjalan normal. Bagi warga, semburan debu dari Gunung Slamet dianggap hal yang biasa. Mereka yakin bahwa gunung itu belum akan meletus. Warga di kawasan Baturaden misalnya. Mereka tetap bertani serta masuk hutan di kawasan Gunung Slamet.

Gunung Slamet berketinggian 3.432 meter dari permukaan laut. Kaki gunung ini mencakup beberapa kabupaten, yakni Banyumas, Purbalingga, Tegal, Brebes, dan Pemalang. Pada 1988, gunung ini pernah meletus dan memuntahkan abu.


(dari okezone.com)
Gunung Slamet yang berada di perbatasan lima kabupaten di Jawa Tengah terus menunjukkan peningkatan aktivitas. Sejak pukul 24.00 WIB-06.00 WIB, Sabtu (25/4/2009) kemarin, gunung tersebut terus melontarkan lava pijar hingga sebanyak 42 kali dengan tinggi lontaran antara 100m-1000m.

Gempa tremorvulkanik juga terus terjadi sebanyak 60 kali dengan amplitudo 5mm-20mm. Selain itu, gunung tersebut terus mengeluarkan suara gemuruh dari atas puncak gunung. Suara gemuruh itu jelas terdengar hingga ke Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Slamet di Desa Gambuhan Kecamatan Pulosari Pemalang.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Sukedi mengatakan sebelum peningkatan aktivitas, pada Jumat 24 April malam, gunung berketinggian 3.432 m dpl itu telah terjadi 26 kali letusan asap disertai lontaran lava pijar setinggi 50m-700m. Letusan asap itu diikuti gempa permukaan sebanyak 27 kali dengan amplitudo 3-12mm.

"Aktivitas itu terus meningkat pada pukul 24.00-06.00 WIB. Dari atas puncak gunung itu terdengar suara gemuruh disertai lontaran lava pijar. Lava pijar itu tidak sampai ke luar dari puncak gunung, tapi masuk kembali ke sekitar kawah. Lava pijar itu membawa material kasar seperti pasir," kata Sukedi kemarin.

Menurut dia, hingga saat ini peningkatan aktivitas gunung itu terus terjadi, namun tidak bisa dilihat secara visual karena sejak pukul 07.00 hingga pukul 15.00 WIB, puncak gunung tertutup kabut tebal.

"Letusan lava pijar dan gempa permukaan masih terus berlangsung, tapi karena tertutup kabut jadi tidak bisa dilihat secara visual," jelasnya
(dari facebook smansa gangga ganesha)
Seperti yang telah diberitakan sebelumnya bahwa aktifitas Gunung Slamet setelah 12 tahun diam, kembali menggeliat pada tanggal 21 April kemarin. status Gunung Slamet ditingkatkan dari normal ke waspada, karena mengeluarkan asap hitam dengan ketinggian 300 meter. Pada situasi normal, gunung itu mengeluarkan asap putih dengan ketinggian 50 meter. Pada malam hari tanggal 21 April kemarin, aliran sungai yang biasanya jernih, berubah jadi keruh. Tapi perubahan itu apakah karena hujan atau peningkatan aktivitas Gunung Slamet belum bisa diketahui secara pasti. Ditambah lagi, getaran gempa dangkal terus terjadi disekitar kawah gunung ditandai dengan alat pencatat gempa terus menunjukkan grafis yang tak temtu namun berkesinambungan. Tercatat lebih dari 100 kali gempa permukaan yang terjadi yang hanya bisa tercatat pada alat seismograf namun tidak bisa dirasakan oleh penduduk, karena intensitasnya kecil. Selasa siang (22/03), tim gabungan dari TNI, Perhutani Banyumas Barat, PT Palawi dan kepolisian, kemarin turun menyusuri sungai-sungai di sekitar Baturraden yang mata airnya dari Gunung Slamet. Sungai-sungai tersebut diambil sampel airnya untuk dicek apakah ada kenaikan kadar belerang atau tidak, menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Slamet dalam dua hari terakhir. Pemantauan wilayah di lereng gunung apakah ada perubahan suhu, kadar belerang di aliran sungai atau tanda lain yang berkaitan dengan aktivitas gunung api. Ada empat sungai di wilayah Baturraden dan Sumbang yang dicek dan diambil sampelnya, apakah mengandung belerang atau tidak. Keempat sungai yang dicek dan diambil sampelnya, yakni Sungai Pelus, Sungai Siwarak, Sungai Punggawa dan Sungai Lutung. Keempat sungai itu mata airnya berasal dari Gunung Slamet. Sampai sore ini (23/03), asap putih kembali mengepul dari dalam kawah Gunung Slamet. Menurut Pusat Geologi Bandung, kalaupun Gunung Slamet memuntahkan lahar dingin, lahar tersebut dimungkinkan akan turun lewat jalur barat laut Gunung Slamet, yang artinya akan mengarah ke Kabupaten Tegal. Nah bagaimanakah dengan kota-kota di selatan Gunung Slamet seperti Banyumas, Purwokerto dan Purbalingga? untuk sementara belum ada tanda-tanda yang pasti jalur larva akan terbentuk ke arah tersebut, namun masyarakat diminta waspada atas gejala vulkanik Gunung Slamet ini.

Buat temen temen daerah banyumas purbalingga tegal brebes pemalang... mari kita sama sama berdoa semoga gunung kebanggaan kita akan baik baik saja...amiiiiinnnn

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com